Eduard Douwes Dekker

Eduard Douwes Dekker (1820 - 1887)

Privacy Level: Open (White)
Eduard "Multatuli" Douwes Dekker
Born in Amsterdam, The Netherlandsmap
Ancestors ancestors
Husband of — married in Tjandjor Java Hindia Belandamap
[children unknown]
Died in Nieder Ingelheim, Germanymap
Profile last modified | Created 16 Jul 2016
This page has been accessed 596 times.

Categories: Amsterdam, The Netherlands | Dutch East Indies | Dutch Authors | Social Prophets.


Contents

Biografi/Biography

Summary

Indonesian Summary

Eduard Douwes Dekker (lahir di Amsterdam, Belanda, 2 Maret 1820 – meninggal di Ingelheim am Rhein, Jerman, 19 Februari 1887 pada umur 66 tahun), atau yang dikenal pula dengan nama pena Multatuli (dari bahasa Latin multa tuli "banyak yang aku sudah derita") , adalah penulis Belanda yang terkenal dengan Max Havelaar (1860), novel satirisnya yang berisi kritik atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi di Hindia Belanda. [1]

English Summary

Eduard Douwes Dekker (2 March 1820 – 19 February 1887), better known by his pen name Multatuli (from Latin multa tuli, "I have suffered much"), was a Dutch writer famous for his satirical novel, Max Havelaar (1860), which denounced the abuses of colonialism in the Dutch East Indies (today's Indonesia). [2]

Nama dan Ejaan/ Name and Spellings

Kelahiran dan Ayah Ibu/ Birth and Parentage

Eduard dilahirkan di Amsterdam. Ayahnya adalah seorang kapten kapal yang cukup besar dengan penghasilan cukup sehingga keluarganya termasuk keluarga mapan dan berpendidikan. [1]

Eduard kemudian disekolahkan di sekolah Latin yang nantinya bisa meneruskan jenjang pendidikan ke universitas. Pada awalnya Eduard menempuh pendidikan dengan lancar karena Eduard merupakan murid yang berprestasi dan cukup pandai. Namun lama kelamaan Eduard merasa bosan sehingga prestasinya merosot. Hal ini membuat ayahnya langsung mengeluarkannya dari sekolah dan ia ditempatkan di sebuah kantor dagang. [1]

Douwes Dekker was born in Amsterdam. His father was a ship's captain and intended his son for a career in trade. [2]

Orang Tua/Parents: Engel Douwes Dekker &Sietske Eeltjes Klein/Klijn

Kehidupan dan Wafat

Eduard kemudian disekolahkan di sekolah Latin yang nantinya bisa meneruskan jenjang pendidikan ke universitas. Pada awalnya Eduard menempuh pendidikan dengan lancar karena Eduard merupakan murid yang berprestasi dan cukup pandai. Namun lama kelamaan Eduard merasa bosan sehingga prestasinya merosot. Hal ini membuat ayahnya langsung mengeluarkannya dari sekolah dan ia ditempatkan di sebuah kantor dagang. [1]

Menjadi pegawai kecil

Bagi Eduard, penempatannya di sebuah kantor dagang membuatnya merasa dijauhkan dari pergaulan dengan kawan-kawannya sesama keluarga berkecukupan; ia bahkan ditempatkan di posisi yang dianggapnya hina sebagai pembantu di sebuah kantor kecil perusahaan tekstil. Di sanalah dirinya merasa bagaimana menjadi seorang miskin dan berada di kalangan bawah masyarakat. Pekerjaan ini dilakukannya selama empat tahun dan meninggalkan kesan yang tidak dilupakannya selama hidupnya. "Dari hidup di kalangan yang memiliki pengaruh kemudian hidup di kalangan bawah masyarakat membuatnya mengetahui bahwa banyak kalangan masyarakat yang tidak memiliki pengaruh dan perlindungan apa-apa", seperti yang diucapkan Paul van 't Veer dalam biografi Multatuli. [1]

1838 Ke Hindia Belanda

Ketika ayahnya pulang dari perjalanannya, dilihatnya perubahan kehidupan dan keadaan dalam diri Eduard. Hal ini melahirkan niat pada diri ayahnya untuk membawanya dalam sebuah perjalanan. Pada saat itu, di Hindia Belanda terdapat kesempatan untuk mencari kekayaan dan jabatan, juga bagi kalangan orang-orang Belanda yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah. [1]

Karena itu, pada tahun 1838 Eduard pergi ke pulau Jawa dan pada 1839 tiba di Batavia sebagai seorang kelasi yang belum berpengalaman di kapal ayahnya. Dengan bantuan dari relasi-relasi ayahnya, tidak berapa lama Eduard memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri (ambtenaar) di kantor Pengawasan Keuangan Batavia. Tiga tahun kemudian dia melamar pekerjaan sebagai ambtenaar pamong praja di Sumatera Barat dan oleh Gubernur Jendral Andreas Victor Michiels ia dikirim ke kota Natal yang saat itu terpencil sebagai seorang kontrolir. [1]

Diberhentikan

Kehidupan di kota yang terpencil tersebut, bagi Eduard justru lebih menyenangkan. Sebagai ambtenaar pemerintahan sipil yang cukup tinggi di sana, ditambah usianya yang masih cukup muda, ia merasa memiliki kekuasaan yang tinggi. Dalam jabatannya ia mengemban tugas pemerintahan dan pengadilan, dan juga memiliki tugas keuangan dan administrasi. Namun ternyata ia tidak menyukai tugas-tugasnya sehingga kemudian ia meninggalkannya. Atasannya yang kemudian mengadakan pemeriksaan, menemukan kerugian yang besar dalam kas pemerintahannya. [1]

Karena sikapnya yang mengabaikan peringatan-peringatan dari atasannya, serta adanya kerugian kas pemerintahan Eduard pun diberhentikan sementara dari jabatannya oleh Gubernur Sumatera Barat Jendral Michiels. Setahun lamanya ia tinggal di Padang tanpa penghasilan apa-apa. Baru pada September 1844 ia mendapatkan izin untuk pulang ke Batavia. Di sana ia direhabilitasi oleh pemerintah dan mendapatkan "uang tunggu". [1]

Menikah

Indonesian

Sambil menunggu penempatan tugas, Eduard menjalin asmara dengan Everdine van Wijnbergen, gadis turunan bangsawan yang jatuh miskin. Pada bulan April 1846, Eduard yang saat itu telah menjabat sebagai ambtenaar sementara di kantor asisten residen Purwakarta, menikah dengan Everdine. [1]

Dutch

Op 10 april 1846 trad hij te Tjandjoer (Java) in het huwelijk met Everdina Huberta (zelf gaf het echtpaar de voorkeur aan de spelling Everdine Huberte) baronesse van Wijnbergen, met wie hij een dochter en een zoon kreeg. Na haar overlijden (te Venetië op 13 september 1874) hertrouwde hij te Rotterdam op 1 april 1875 met Maria Frederika Cornelia (Mimi of Mies) Hamminck Schepel, onderwijzeres, later schrijfster onder de naam Heloïze, met wie hij in 1878 het tweejarig Duits jongetje Eduard (Wouter) Bernhold als pleegzoon aannam. [3]

Bekerja kembali

Belajar dari pengalamannya yang buruk saat bertugas sebelumnya di Natal, Eduard bekerja cukup baik sebagai ambtenaar pemerintah sehingga pada 1846 ia diangkat menjadi pegawai tetap. Pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi komis di kantor residen Purworejo. Prestasinya membuatnya diangkat oleh residen Johan George Otto Stuart von Schmidt auf Altenstadt menjadi sekretaris residen menggantikan pejabat sebelumnya. Namun karena Eduard tidak memiliki diploma sebagai syarat ditempatkannya sebagai pejabat tinggi pemerintahan, Eduard tidak mendapatkan kenaikan pangkat yang sesungguhnya. Namun Gubernur Jenderal dapat memberikan pengakuan diploma dalam hal-hal yang dianggap istimewa dengan syarat mampu melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. Eduard mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal dan akhirnya berhasil memperolehnya karena prestasi kerjanya. Keputusan ini diterima dari atasannya, Residen Purworejo. Kegagalan saat bertugas di Natal dianggap sebagai kesalahan pegawai muda yang dapat dimaafkan. [1]

Dalam perjalanan karier selanjutnya, Eduard diangkat menjadi sekretaris residen di Manado akhir April 1849 yang merupakan masa-masa karier terbaiknya. Eduard merasa cocok dengan residen Scherius yang menjadi atasannya sehingga ia mendapat perhatian para pejabat di Bogor di antaranya karena pendapatnya yang progresif mengenai rancangan peraturan guna perubahan dalam sistem hukum kolonial. Kariernya meningkat menjadi asisten residen, yang merupakan karier nomor dua paling tinggi di kalangan ambtenaar Hindia Belanda. Eduard menerima jabatan ini dan ditugasi di Ambon pada Februari 1851. [1]

Benturan dengan Gubernur

Namun, meskipun telah mendapatkan jabatan yang cukup tinggi di kalangan ambtenaar Hindia Belanda, Eduard merasa tidak cocok dengan Gubernur Maluku yang memiliki kekuasaan tersendiri sehingga membuat ambtenaar-ambtenaar bawahannya tidak dapat menunjukkan inisiatifnya. Eduard akhirnya mengajukan cuti dengan alasan kesehatan sehingga mendapatkan izin cuti ke negeri Belanda. Dan pada hari Natal 1852, dia bersama istrinya tiba di pelabuhan Hellevoetsluis dekat Rotterdam. [1]

Pindah ke Lebak

Selama cuti di Belanda, Eduard ternyata tidak dapat mengatur keuangannya dengan baik; hutang menumpuk di sana-sini bahkan ia sering mengalami kekalahan di meja judi. Meskipun telah mengajukan perpanjangan cuti di Belanda, dia dan istrinya akhirnya kembali ke Batavia pada tanggal 10 September 1855. Tidak lama kemudian, Eduard diangkat menjadi asisten residen Lebak di sebelah selatan karesidenan Banten yang bertempat di Rangkasbitung pada Januari 1856. Eduard melaksanakan tugasnya dengan cukup baik dan bertanggung jawab. Namun ternyata, dia menjumpai keadaan di Lebak yang sesungguhnya sangat buruk bahkan lebih buruk daripada berita-berita yang didapatnya. [1]

Pemerasan di Lebak

Bupati Lebak yang pada saat itu menurut sistem kolonial Hindia Belanda diangkat menjadi kepala pemerintahan bumiputra dengan sistem hak waris telah memegang kekuasaan selama 30 tahun, ternyata dalam keadaaan kesulitan keuangan yang cukup parah lantaran pengeluaran rumah tangganya lebih besar dari penghasilan yang diperoleh dari jabatannya. Dengan demikian, bupati Lebak hanya bisa mengandalkan pemasukan dari kerja rodi yang diwajibkan kepada penduduk distriknya berdasarkan kebiasaan. [1]

Edwuard Douwes Dekker menemukan fakta bahwa kerja rodi yang dibebankan pada rakyat distrik telah melampaui batas bahkan menjumpai praktik-praktik pemerasan yang dilakukan oleh Bupati Lebak dan para pejabatnya dengan meminta hasil bumi dan ternak kepada rakyatnya. Kalaupun membelinya, itupun dengan harga yang terlalu murah. [1]

Belum saja satu bulan Eduard Douwes Dekker ditempatkan di Lebak, dia menulis surat kepada atasannya, residen C.P. Brest van Kempen dengan penuh emosi atas kejadian-kejadian di wilayahnya. Eduard meminta agar bupati dan putra-putranya ditahan serta situasi yang tidak beres tersebut diselidiki. Dengan adanya desakan dari Eduard tersebut, timbullah desas-desus bahwa pejabat sebelumnya yang digantikannya meninggal karena diracun. Hal ini membuat Eduard merasa dirinya dan keluarganya terancam. Sebab lainnya adalah adanya berita kunjungan bupati Cianjur ke Lebak, yang ternyata masih keponakan bupati Lebak, yang kemudian membuat Eduard mengambil kesimpulan akan menimbulkan banyak pemerasan kepada rakyat. [1]

Atasannya, Brest van Kempen sangat terkejut dengan berita yang dikirimkan Eduard sehingga mengadakan pemeriksaan di tempat, namun menolak permintaan Eduard. Dengan demikian Eduard meminta agar perkara tersebut diteruskan kepada Gubernur Jendral A.J. Duymaer van Twist yang terkenal beraliran liberal. Namun, meskipun maksudnya terlaksana, Eduard justru mendapatkan peringatan yang cukup keras. Karena kecewa, Eduard mengajukan permintaan pengunduran diri dan permohonannya dikabulkan oleh atasannya. [1]

Kembali ke Eropa

Sekali lagi, Eduard kehilangan pekerjaan akibat bentrok dengan atasannya. Usahanya untuk mencari pekerjaan yang lain menemui kegagalan. Bahkan saudaranya yang sukses berbisnis tembakau malah meminjamkan uang untuk pulang ke Eropa untuk bekerja di sana. Istri dan anaknya sementara ditinggalkan di Batavia. [1]

Di Eropa, Eduard bekerja sebagai redaktur sebuah surat kabar di Brusel, Belgia namun tidak lama kemudian dia keluar. Kemudian usahanya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai juru bahasa di Konsulat Perancis di Nagasaki juga menemui kegagalan. Usahanya untuk menjadi kaya di meja judi justru membuatnya menjadi semakin melarat. [1]

Mulai menulis

Sampul cetakan pertama Max Havelaar tahun 1860. Namun cita-cita Eduard yang lain, yaitu menjadi pengarang, berhasil diwujudkannya. Ketika kembali dari Hindia Belanda, dia membawa berbagai manuskrip di antaranya sebuah tulisan naskah sandiwara dan salinan surat-surat ketika dia menjabat sebagai asisten residen di Lebak. Pada bulan September 1859, ketika istrinya didesak untuk mengajukan cerai, Eduard mengurung diri di sebuah kamar hotel di Brussel dan menulis buku Max Havelaar yang kemudian menjadi terkenal. [1]

Buku tersebut diterbitkan pada tahun 1860 dalam versi yang diedit oleh penerbit tanpa sepengetahuannya namun tetap menimbulkan kegemparan di kalangan masyarakat khususnya di kawasan negerinya sendiri. Pada tahun 1875, terbit kembali dengan teks hasil revisinya. Namanya sebagai pengarang telah mendapatkan pengakuan, yang berarti lambat laun Eduard dapat mengharapkan penghasilan dari penerbitan karyanya. [1]

Ketika menerbitkan novel Max Havelaar, ia menggunakan nama samaran 'Multatuli'. Nama ini berasal dari bahasa Latin dan berarti "'Aku sudah menderita cukup banyak'" atau "'Aku sudah banyak menderita'"; di sini, aku dapat berarti Eduard Douwes Dekker sendiri atau rakyat yang terjajah. Setelah buku ini terjual di seluruh Eropa, terbukalah semua kenyataan kelam di Hindia Belanda, walaupun beberapa kalangan menyebut penggambaran Dekker sebagai berlebih-lebihan. [1]

Antara tahun 1862 dan 1877, Eduard menerbitkan Ideën (Gagasan-gagasan) yang isinya berupa kumpulan uraian pendapat-pendapatnya mengenai politik, etika dan filsafat, karangan-karangan satir dan impian-impiannya. Sandiwara yang ditulisnya, di antaranya Vorstenschool (Sekolah para Raja), dipentaskan dengan sukses. [1]

Walaupun kualitas literatur Multatuli diperdebatkan, ia disukai oleh Carel Vosmaer, penyair terkenal Belanda. Ia terus menulis dan menerbitkan buku-buku berjudul Ideen yang terdiri dari tujuh bagian antara tahun 1862 dan 1877, dan juga mengandung novelnya Woutertje Pieterse serta Minnebrieven pada tahun 1861 yang walaupun judulnya tampak tidak berbahaya, isinya adalah satir keras. [1]

Akhir hayat

Akhirnya Eduard Douwes Dekker merasa bosan tinggal di Belanda. Pada akhir hayatnya, dia tinggal di Jerman bersama seorang anak Jerman yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Eduard Douwes Dekker tinggal di Wiesbaden, Jerman, di mana ia mencoba untuk menulis naskah drama. Salah satu dramanya, Vorstenschool (diterbitkan di 1875 dalam volume Ideën keempat) menyatakan sikapnya yang tidak berpegang pada satu aliran politik, masyarakat atau agama. Selama dua belas tahun akhir hidupnya, Eduard tidaklah mengarang melainkan hanya menulis berbagai surat-surat. [1]

Eduard Douwes Dekker kemudian pindah ke Ingelheim am Rhein dekat Sungai Rhein sampai akhirnya meninggal 19 Februari 1887. [1]

Pengaruh dalam sastra Hindia Belanda dan Indonesia

Multatuli telah mengilhami bukan saja karya sastra di Indonesia, misalnya kelompok Angkatan Pujangga Baru, namun ia telah menggubah semangat kebangsaan di Indonesia. Semangat kebangsaan ini bukan saja pemberontakan terhadap sistem kolonialisme dan eksploitasi ekonomi Hindia Belanda (misal tanam paksa) melainkan juga kepada adat, kekuasaan dan feodalisme yang tak ada habisnya menghisap rakyat jelata. Bila Multatuli dalam Max Havelaar dapat dikatakan telah mempersonifikasikan dirinya sebagai Max yang idealis dan akhirnya frustrasi, Muhammad Yamin lebih berfokus pada si kaum terjajah, misalnya dalam puisinya yang berjudul Hikajat Saidjah dan Adinda Dalam sisi filosofis frustrasi yang dihadapi Max serta Saidjah dan Adinda adalah sama pada hakekatnya; keduanya putus asa dan terbelenggu dalam rantai sistem yang hanya bisa terputuskan melalui revolusi. [1]

English Narrative Account

His father was a ship's captain and intended his son for a career in trade. This humdrum prospect disgusted Douwes Dekker and in 1838 he obtained a post as a civil servant on the island of Java. During the period between 1848 to 1851 Douwes Dekker eventually rose to serve as assistant resident in various regencies in the Indonesian archipelago including Natal, North Sumatra, Manado in Sulawesi and Ambon in the Moluccas. In 1857 he was transferred to Lebak, in the Bantam residency of Java (now Banten province). By this time, however, all the secrets of Dutch administration were known to him, and he had begun to openly protest about the abuses of the colonial system. Consequently, he was threatened with dismissal from his office for his openness of speech. Douwes Dekker resigned his appointment and returned to the Netherlands.[2]

He was determined to expose in detail the scandals he had witnessed, and he began to do so in newspaper articles and pamphlets. Little notice, however, was taken of his protestations until, in 1860, he published his novel Max Havelaar under the pseudonym of Multatuli. Douwes Dekker's new pseudonym, which is derived from Latin, means, "I have suffered much", or, more literally "I have borne much" referring to himself, as well as, it is thought, to the victims of the injustices he saw. An attempt was made to suppress the inflammatory book, but in vain; it was read all over Europe. Colonialist apologists accused Douwes Dekker's horrific depictions of being hyperbolic. Multatuli now began his literary career, and published Love Letters (1861), which, in spite of their mild title, were mordant, unsparing satires.[2]

Although the literary merit of Multatuli's work was widely criticised, he received an unexpected and most valuable ally in Carel Vosmaer who published a book (The Sower 1874) praising him. He continued to write much, and to publish his miscellanies in uniform volumes called Ideas, of which seven appeared between 1862 and 1877 and also contain his novel Woutertje Pieterse (Little Walter Pieterse).[2]

Douwes Dekker left Holland, and went to live in Ingelheim am Rhein near Mainz, where he made several attempts to write for the stage. One of his pieces, The School for Princes (published in 1875 in the fourth volume of Ideas), expresses his non-conformist views on politics, society and religion. He moved his residence to Nieder Ingelheim, on the Rhine, where he died in 1887.[2]

Douwes Dekker had been one of Sigmund Freud's favourite writers. He heads the list of 'ten good books' which Freud drew up in 1907.[2]

In June 2002, the Dutch Maatschappij der Nederlandse Letterkunde (Society of Dutch Literature) proclaimed Multatuli the most important Dutch writer of all time.[2]

Multatuli's brother, Jan Douwes Dekker, is a grandfather of Ernest Douwes Dekker (also known as Danudirja Setiabudi, a National Hero of Indonesia).[2]

Douwes is commonly thought, wrongly, to be his middle name. Douwes Dekker is the combined form of both of his grandparents' last names, chosen after they couldn't decide which of their names they should give him. [2]

Sumber/ Sources

  1. 1.00 1.01 1.02 1.03 1.04 1.05 1.06 1.07 1.08 1.09 1.10 1.11 1.12 1.13 1.14 1.15 1.16 1.17 1.18 1.19 1.20 1.21 1.22 1.23 1.24 1.25 1.26 1.27 Eduard Douwes Dekker. https://id.wikipedia.org/wiki/Eduard_Douwes_Dekker.
  2. 2.0 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 Multatuli. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Multatuli

    Dutch Summary

    DOUWES DEKKER, Eduard Eduard Douwes Dekker (Multatuli) (bekend als Multatuli; roepnaam: Dek), vrijdenker en schrijver 'tegen wil en dank', is geboren te Amsterdam op 2 maart 1820 en overleden te Nieder-Ingelheim (Rhein-Hessen, Duitsland) op 19 februari 1887. Hij was de zoon van Engel Douwes Dekker, kapitein ter koopvaardij, en Sietske Eeltjes Klein (soms ook in officiële stukken: Klijn). Op 10 april 1846 trad hij te Tjandjoer (Java) in het huwelijk met Everdina Huberta (zelf gaf het echtpaar de voorkeur aan de spelling Everdine Huberte) baronesse van Wijnbergen, met wie hij een dochter en een zoon kreeg. Na haar overlijden (te Venetië op 13 september 1874) hertrouwde hij te Rotterdam op 1 april 1875 met Maria Frederika Cornelia (Mimi of Mies) Hamminck Schepel, onderwijzeres, later schrijfster onder de naam Heloïze, met wie hij in 1878 het tweejarig Duits jongetje Eduard (Wouter) Bernhold als pleegzoon aannam. Pseudoniem: Multatuli.<ref>Douwes-dekker. https://socialhistory.org/bwsa/biografie/douwes-dekker </li>

    <li id="_note-social">[[#_ref-social_0|↑]] </li></ol></ref>

See also:



More Genealogy Tools



Sponsored Search




Search
Searching for someone else?
First: Last:

DNA
No known carriers of Eduard's ancestors' Y-chromosome or mitochondrial DNA have taken yDNA or mtDNA tests and no close relatives have taken a 23andMe, AncestryDNA, or Family Tree DNA "Family Finder" test.

Have you taken a DNA test for genealogy? If so, login to add it. If not, see our friends at Ancestry DNA.



Images: 1
Eduard Douwes Dekker
Eduard Douwes Dekker

Collaboration

Eduard is 35 degrees from Walter Morrison, 41 degrees from Alison Wilkins and 26 degrees from Victoria of the United Kingdom of Great Britain and Ireland on our single family tree. Login to find your connection.

D  >  Douwes Dekker  >  Eduard Douwes Dekker