Suharto (Kertosudiro) putera Kertosudiro

Suharto (Kertosudiro) putera Kertosudiro (1921 - 2008)

Privacy Level: Open (White)
Suharto putera Kertosudiro formerly Kertosudiro aka Presiden Kedua Republik Indonesia, 2nd President of The Republic of Indonesia
Born in Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Java, Indonesiamap
Ancestors ancestors
[sibling(s) unknown]
Husband of — married in Surakarta, Jawa Tengah, Hindia Belandamap
[children unknown]
Died in Jakarta, Java, Indonesiamap
Profile last modified | Created 6 Jul 2016 | Last significant change: 13 Nov 2018
00:26: Greg Slade edited the Biography for Suharto (Kertosudiro) putera Kertosudiro. [Thank Greg for this]
This page has been accessed 775 times.

Categories: Presidents of Indonesia | Famous People of the 20th Century | Unconnected Notables | Indonesia, Unconnected Profiles | Indonesian War for Independence | Yogyakarta.

Notables
Suharto (Kertosudiro) putera Kertosudiro is notable.
Join: Notables Project
Discuss: notables

Contents

Biografi

Nama dan Ejaan

Jenderal Besar TNI (Purn.) H. M. Soeharto, (O Jawa: Suharta; Jawa Latin: Suhartå; Hanacaraka:ꦯꦸꦲꦂꦠ) (ER, EYD: Suharto) (1)

Kelahiran dan Ayah Ibu

Suharto lahir di 8 Juni 1921 lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, pada tanggal 8 Juni 1921. (1)

Pasangan

Soeharto menikah dengan Raden Ayu Siti Hartinah, anak KRMT Soemoharyomo. Soemoharyomo adalah seorang Wedana di Solo. Perkawinan Letnan Kolonel (Letkol) Soeharto dengan Siti Hartinah (yang kemudian dikenal dengan Tien Soeharto) dilangsungkan pada 26 Desember 1947 di Solo. Ketika itu, usia Soeharto 26 tahun, sedangkan Siti Hartinah berusia 24 tahun. (1)

Anak

Pasangan ini dikarunia enam putra-putri, yaitu Siti Hardiyanti Hastuti (Tutut), Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Harijadi (Titiek) , Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek) (1)


Karir

Jenderal Besar TNI (Purn.) H. M. Soeharto, (O Jawa: Suharta; Jawa Latin: Suhartå; Hanacaraka:ꦯꦸꦲꦂꦠ) (ER, EYD: Suharto) (lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, 8 Juni 1921 – meninggal di Jakarta, 27 Januari 2008 pada umur 86 tahun) adalah Presiden ke-dua Indonesia yang menjabat dari tahun 1967 sampai 1998, menggantikan Soekarno. Di dunia internasional, terutama di Dunia Barat, Soeharto sering dirujuk dengan sebutan populer "The Smiling General" (bahasa Indonesia: "Sang Jenderal yang Tersenyum") karena raut mukanya yang selalu tersenyum.

Sebelum menjadi presiden, Soeharto adalah pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. Setelah Gerakan 30 September 1965, Soeharto menyatakan bahwa PKI adalah pihak yang bertanggung jawab dan memimpin operasi untuk menumpasnya. Operasi ini menewaskan lebih dari 500.000 jiwa.

Soeharto kemudian mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, dan resmi menjadi presiden pada tahun 1968. Ia dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Pada tahun 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei tahun tersebut, menyusul terjadinya kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa. Ia merupakan orang terlama yang menjabat sebagai presiden Indonesia. Soeharto digantikan oleh B.J. Habibie.

Peninggalan Soeharto masih diperdebatkan sampai saat ini. Dalam masa kekuasaannya, yang disebut Orde Baru, Soeharto membangun negara yang stabil dan mencapai kemajuan ekonomi dan infrastruktur.[4][5][6][7] Suharto juga dianggap membatasi kebebasan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa, menduduki Timor Timur, dan dianggap sebagai rezim paling korupsi dengan jumlah $AS 15 miliar sampai $AS 35 miliar.[8] Usaha untuk mengadili Soeharto gagal karena kesehatannya yang memburuk. Setelah menderita sakit berkepanjangan, ia meninggal karena kegagalan organ multifungsi di Jakarta pada tanggal 27 Januari 2008.(1)


Wafat

Suharto meninggal di Jakarta, 27 Januari 2008 pada umur 86 tahun (1)

January 27 2008

Minggu, 27 Januari 2008 | 20:22 WIB SELAMA terbaring di rumah sakit pada usianya yang 86 tahun, banyak spekulasi tentang kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto. Sejumlah paranormal berkomentar dari soal jimat, susuk, dan yang bau-bau seperti itu.

Kini, tokoh fenomenal yang terlahir dari keluarga petani di Desa Kemusuk, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, yang mencapi puncak kekuasaan sebagai Presiden Republik Indonesia selama 35 tahun itu wafat. Lalu apa dan bagaimana pandangan hidup Soeharto?

ADALAH Ny Sukirah. Tepat 8 Juni 1921, seorang bocah keluar dari rahimnya. Tangis Soeharto kecil pecah, manakala Mbah Kromodiryo --seorang dukun bayi-- membantu persalinan Ny Sukirah. Mbah Kromo masih terhitung kerabat dekat dengan Soeharto. Pria itu adalah adik kandung kakeknya Soeharto.

Proses kelahiran Soeharto berjalan lancar. Bocah itu lahir di rumah ibunya di Desa Kemusuk, sebuah dusun terpencil di daerah Argomulyo, Godean --sebelah Barat Yogjakarta. "Ayah saya adalah ulu-ulu, petugas desa pengatur air yang bertani di atas tanah lungguh, tanah jabatan selama beliau memiliki tugasnya. Beliau yang memberi nama Soeharto kepada saya," kenangnya.

Soeharto adalah anak ketiga Kertosudiro. Dari istri yang pertama, Kertosudiro mempunyai dua anak. Sebagai duda, Kertosudiro bertemu dengan Sukirah. "Tetapi hubungan orang tua saya kurang serasi hingga akhirnya setelah saya dilahirkan, mereka bercerai," tutur Soeharto.

Beberapa tahun kemudian Ny Sukirah menikah lagi dengan Atmopawiro. Dari pernikahannya itu ia dikaruniai tujuh orang anak. "Sementara ayah saya menikah lagi dan mendapatkan empat anak," ujarnya.

Soeharto kecil belum genap berusia 40 hari. Sukirah mengendong bayinya ke rumah Mbah Kromodiryo, dengan alasan dirinya sedang sakit dan tak bisa memberikan air susu ibu. Di rumah itulah Soeharto ditimang-timang Mbah Amat Idris. "Mbah Kromo yang mengajar saya berdiri dan berjalan dan seringkali beliau membawa saya kemana-mana kalau beliau pergi bertugas keluar rumah. Kalau Mbah Kromo putri menjalankan prakteknya sebagai dukun bayi dan saya tidak dibawanya," kenang Soeharto.

Wajar saja kalau Desa Kemusuk merupakan desa yang tak bisa dilupakan Soeharto. Di tanah Kemusuk itu pula, Soeharto masih teringat betapa nikmatnya diajak jalan-jalan oleh Mbah Kromo ke sawah. Sesekali Soeharto berada di pungung Mbah Kromo yang sedang menyangkul sawah. Kadang-kadang Soeharto duduk di atas garu dan memberi isyarat kepada kerbau untuk maju, membelok ke kanan dan ke kiri.

"Lalu turun ke sawah bermain air bermandikan lumpur. Maka kalau terasa capek atau kepanasan, saya disuruhnya menunggu di pinggir, di pematang atau di jalan. Pada kesempatan ikut dengan Mbah Kromo, saya suka mencari belut yang jadi kesukaan saya waktu makan," kenangnya.

Saat Soeharto kecil berusia empat tahun, ia diambil kembali oleh ibu kandungnya dan diajak menetap di rumah Atmoprawiro, ayah tirinya. (3)


Biography

Name and Spellings

Suharto (Javanese: ꦯꦸꦲꦂꦠ;[2] Gêdrìk: Suhartå; O-Javanese: Suharta; About this sound pronunciation (help·info); 8 June 1921 – 27 January 2008) was the second President of Indonesia, holding the office for 31 years from the ousting of Sukarno in 1967 until his resignation in 1998. (2)

Birth and Parentage

Suharto was born 8 June 1921, in Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. (2)

Pasangan/ Marriages

Suharto married Raden Ayu Siti Hartinah, the daughter of KRMT Soemoharyomo. Soemoharyomo was the Wedana of Solo. The marriage of Lietenant Colonel (LetCol) Soeharto with Siti Hartinah (who was then known as Tien Soeharto) took place on 26 December 1947 in Solo. At the time, Soeharto was 36 and Siti Hartinah was 24. (2)


Children

The couple was blessed with 6 children

  1. Siti Hardiyanti Hastuti (Tutut),
  2. Sigit Harjojudanto,
  3. Bambang Trihatmodjo,
  4. Siti Hediati Harijadi (Titiek) ,
  5. Hutomo Mandala Putra (Tommy),
  6. Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek). (2)

Career

During the Japanese occupation of Indonesia, Suharto served in Japanese-organised Indonesian security forces. Indonesia's independence struggle saw his joining the newly formed Indonesian army. Suharto rose to the rank of Major General following Indonesian independence. An attempted coup on 30 September 1965 was countered by Suharto-led troops and was blamed on the Indonesian Communist Party.The army subsequently led an anti-communist purge which the CIA described as "one of the worst mass murders of the 20th century" and Suharto wrested power from Indonesia's founding president, Sukarno. He was appointed acting president in 1967 and President the following year. He then mounted a social propaganda campaign known as De-Soekarnoization in an effort to reduce the former President's influence and prestige. Support for Suharto's presidency was strong throughout the 1970s and 1980s but eroded following a severe financial crisis that led to widespread unrest and his resignation in May 1998. Suharto died in 2008.

The legacy of Suharto's 31-year rule is debated both in Indonesia and abroad. Under his "New Order" administration, Suharto constructed a strong, centralised and military-dominated government. An ability to maintain stability over a sprawling and diverse Indonesia and an avowedly anti-Communist stance won him the economic and diplomatic support of the West during the Cold War. For most of his presidency, Indonesia experienced significant economic growth and industrialisation, dramatically improving health, education and living standards. Indonesia's invasion and occupation of East Timor during Suharto's presidency resulted in at least 100,000 deaths. By the 1990s, the New Order's authoritarianism and widespread corruption were a source of discontent. (2)

Death

Suharto died in Jakarta on the 27th January 2008, aged 86. (2)

(1) https://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto

(2) https://en.wikipedia.org/wiki/Suharto

(3) http://www.seasite.niu.edu/flin/suharto-dead-kompas.htm

Sources



More Genealogy Tools



Sponsored Search




Search
Searching for someone else?
First: Last:

DNA
No known carriers of Suharto's ancestors' Y-chromosome or mitochondrial DNA have taken yDNA or mtDNA tests and no close relatives have taken a 23andMe, AncestryDNA, or Family Tree DNA "Family Finder" test.

Have you taken a DNA test for genealogy? If so, login to add it. If not, see our friends at Ancestry DNA.



Images: 2
Presiden Soeharto
Presiden Soeharto

Siti Hardiyanti Rukmana, putri sulung mantan Presiden Soeharto, melihat wajah ayahnya saat disemayamkan di rumah duka Jalan Cendana, Jakarta Pusat, Minggu /Suharto's daughter looking at her father's corpse.
Siti Hardiyanti Rukmana, putri sulung mantan Presiden Soeharto, melihat wajah ayahnya saat disemayamkan di rumah duka Jalan Cendana, Jakarta Pusat, Minggu /Suharto's daughter looking at her father's corpse.

Collaboration

K  >  Kertosudiro  |  P  >  putera Kertosudiro  >  Suharto (Kertosudiro) putera Kertosudiro